Monday, September 7, 2009

Bisakah Kita Mudik Tidak Dengan Motor? (I)

photo courtesy kaltimpost.co.id


Jam di lengan Suparno, sebut saja begitu, menunjukkan pukul 2 pagi. Motor yang dipacunya dengan kecepatan tinggi baru saja memasuki gerbang perbatasan Kota Lawang, Malang, puluhan kilometer lagi menuju kampung halaman. Si kecil terlihat pulas di dekapan sang Bunda.

Jaket yang dikenakannya, tak lagi sanggup menahan angin dingin dinihari Lawang, tapi Suparno bergeming, tak hendak mengendurkan laju kendaraan, apalagi menepi untuk sekadar mengendurkan urat syaraf, menghangatkan badan dan membiarkan aliran darah kembali lancar.

Mengingat ratusan kilo meter yang telah dilewatinya dan puluhan jam yang dihabiskan sejak berangkat dua hari lalu dari kediamannya di Tangerang, Banten. Terbayang sudah ramainya suasana silaturahim dengan kerabat dan sanak keluarga kampungnya yang sesaat lagi bakal dirasakan.

Kesibukan penduduk untuk bersantap sahur baru saja dimulai. Dari kejauhan terdengar tetabuhan dibunyikan sekelompok orang untuk membangunkan penduduk agar mempersiapkan diri bersahur. Motor yang dikendarai Suparno baru saja masuk perbatasan desa. Dari sini tinggal menghitung menit untuk sampai di rumah Bapak-Ibu tercinta.

Ada banyak cerita yang dibawanya. Tentang kehidupannya, kulakan pasarnya yang makin maju, rumah tangganya yang bulan lalu memasuki usia kelima. Juga cerita lain mengenai si kecil, buah perkawinannya dengan isteri tercintanya, yang kini tengah lucu-lucunya, yang tak bisa bertemu Eyang Kakung dan Mbah Uthi-nya tahun lalu karena masih terlampau kecil untuk diajak bepergian.

Dan perjalanan Suparno berakhir pada rumah sederhana dengan pekarangan luas di sisi jalan, adalah rumah pasangan suami-isteri tua berumur sekitar 60 tahun. Mesin motornya pun segera ia matikan sesaat memasuki halaman rumah. Dari dalam rumah, sang empunya menyadari telah kedatangan tamu dan bersiap menyambutnya.

Suparno dan isteri merasa lega. Akhirnya perjalanan panjang itu berakhir juga. Turun dari motor, sang Bunda berinteraksi dengan si kecil. Bocah berusia dua tahun itu hanya terdiam. "Tidurnya pulas sekali" pikirnya, namum karena posisinya tak berubah, kekuatiran tiba-tiba saja menjalar. Sekujur tubuhnya begitu dingin dan kaku.

Sang Bunda lalu memeriksa nafas buah hatinya tersebut, namun satu-satunya tanda kehidupan yang Ia harapkan tidak pula terdeteksi. Meledaklah tangis Ibu-Bapak itu. Anak mereka satu-satunya telah berpulang. Harapan hendak bersilaturahmi dan melewatkan saat-saat Lebaran dengan kebahagiaan pupus sudah. Berganti dengan kedukaan yang begitu dalam.

Sekelumit kisah di atas bukan semata isapan jempol. Hal tersebut benar-benar terjadi dan menimpa salah seorang rekan kantor isteri penulis. Tragisnya kejadian itu begitu kontras dengan apa diinginkan semula yaitu bisa berkumpul dan bersilaturrahmi di Hari Raya.

Ada apa dengan motor?
Bermudik dengan kendaraan roda dua adalah laksana sebuah pertaruhan, perjuangan besar yang kadang harus dibayar bahkan dengan nyawa. Catatan angka kecelakaan yang terjadi tahun 2008 dari sebanyak 1.254 kecelakaan lalu lintas terdapat korban jiwa 585 orang. Dari angka itu, persentase untuk pengendara motor mencapai 70% atau sekitar 400 nyawa bikers melayang. Wow! Sebuah angka yang bisa disamakan dengan bencana alam, mengingat rentang waktunya yang cukup singkat, hanya sekitar 2 minggu.

Namun kenyataan-kenyataan tersebut juga tidak menyurutkan minat para pemudik motor untuk memacu kendaraannya menuju tanah tercinta, kampung halaman, walaupun dengan berbagai rintangan yang harus dilalui. Lalu apa yang menyebabkan para pemudik melirik motor sebagai alternatif?

Alasan pertama dan yang paling klasik adalah keterbatasan ekonomi. Di saat libur Lebaran, sebagaimana kita maklumi, tiket mudik baik menggunakan moda transportasi bus, kereta api, maupun pesawat terbang ludes atau menghilang bahkan jauh sebelum menjelang Hari Raya. Kalau pun ada harganya menjadi tak cukup selangit, bahkan berlangit-langit.

Pemerintah melalui Menteri Perhubungan memang mensubsidi tarif kereta api kelas ekonomi, tapi mengharap mendapatkan tiket super murah itu seperti mengharapkan undian milyaran rupiah. Belum lagi, siapa yang menjamin bakal tidak ada ulah nakal calo yang mengambil keuntungan sesaat dengan menawarkan tiket sampai berlipat-lipat dari harga aslinya.

Kalau sudah begitu, mau tak mau kita akan berhitung. Ambil rata saja jika mudik dengan bus ke wilayah di Jawa Tengah misalnya membutuhkan biaya Rp150.000 untuk satu orang, maka untuk satu keluarga dengan tanpa anak, setidaknya perlu merogoh kocek Rp300.000 hanya untuk transportasi saja. Belum ongkos lainnya.

Bagaimana mudik dengan kendaraan bermotor roda dua? Satu liter bensin premium yang seharga Rp4.500 bisa untuk menempuh jarak +/- 40 km. Jarak Jakarta-Semarang, misalnya, sekitar 423 km, maka hanya membutuhkan +/- 11 liter bensin atau hanya Rp49.500 untuk dua penumpang.

Taruhlah sebelum keberangkatan pemudik perlu perbaikan dan tune-up motor, maka setidaknya pemudik motor harus merogoh kocek Rp100.000 - Rp150.000. Namun tetap saja masih lebih murah ketimbang harus naik kereta api ataupun bus.

Alasan kedua adalah mudik dengan motor itu mudah, simpel. Sementara jutaan orang mengantri keberangkatan di terminal-terminal bus atau stasiun kereta api, pemudik motor bisa langsung memacu kendaraannya ke kampung tanpa harus berpayah-payah menunggu.

Di samping itu, karena membludaknya arus pemudik, biasanya terjadi kemacetan yang luar biasa sepanjang jalur mudik, namun hal tersebut tidak berlaku untuk kendaraan roda dua. Bentuknya yang "langsing" membuat pengemudi bisa memanfaatkan jalan "setapak" yang disisakan kendaraan roda empat ke atas.

Ketiga adalah alasan prestige, di mana para pemudik motor bisa menaikkan derajat kegengsian mereka di kampung halaman dengan motor yang dibawanya. Belum lagi motor adalah sarana transportasi yang efektif untuk bersilaturrahmi dengan sanak keluarga yang berbeda kampung.

Dan menurut penulis yang terakhir dan tak kalah adalah faktor atau alasan, sebut saja having fun. Saat ini banyak orang, terutama di kalangan remaja yang memanfaatkan momen mudik sebagai ajang piknik. Dengan rekan-rekan bikers (komunitas), remaja-remaja itu menjadikan mudik Lebaran sebagai ajang show off komunitas mereka, lengkap dengan bendera, jaket dan emblem. Menyenangkan memang! (bersambung...)

PUSTAKA
Kecelakaan Mudik 2008... www.halohalo.co.id
Sepeda Motor Dominasi Kecelakaan... www.antara.co.id

0 comments: