Menjelang pemilu legislatif lalu, ada percakapan antartetangga mengenai partai yang mereka dukung. Percakapan warung kopi biasa, dan tidak ada yang bisa disimpulkan dari obrolan itu.
Tidak ada satu tetangga pun yang bisa meyakinkan tetangga lainnya untuk akhirnya memilih parpol yang didukungnya. “Saya mah, Pak Beye aja.” kata tetangga yang satu. Tetangga satunya dengan pilihan yang berbeda tak mau kalah, “Aku sih dari dulu PDI.” tukasnya, tanpa memperinci kenapa dirinya menjadi pengagum partai itu.
Namun itulah realitas pemilih yang ada di Indonesia saat ini. Cinta mati, mungkin itu istilah yang tepat untuk menggambarkannya fanatisme terhadap satu parpol tanpa mau melihat platform apa yang ditawarkan parpol itu dan baik-buruknya dibandingkan yang lainnya. Kalau sudah itu, ya itu saja!
Keengganan sebagian besar masyarakat pemilih untuk melihat platform partai yang akan dipilihnya itu menunjukkan betapa pendidikan politik di negeri ini mandhek alias berjalan di tempat. Walaupun hal itu juga tidak terlepas dari peran parpol yang sebagian besar juga tidak jelas platform-nya.
Tentunya kita ingat fenomena calon-calon anggota DPD bernomor urut 31. Hal itu memberikan berkah tersendiri bagi para calon DPD tersebut. Hampir sebagian besar calon anggota Dewan Perwakilan Daerah itu bisa melenggang ke Senayan, mengalahkan nama-nama besar yang digadang-gadang kebanyakan orang.
Tidak saja di daerah-daerah, namun yang mengejutkan fenomena ini juga terjadi di Ibukota, yang tingkat melek dan keterhubungan terhadap informasinya tinggi. Seharusnya, calon pemilih di Ibukota lebih bisa mencerna informasi mengenai siapa saja calon anggota DPD yang bakal dipilihnya. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa memang para anggota DPD bernomor urut itu adalah calon-calon terbaik yang layak dipilih.
Namun jika fenomena ini adalah hanya karena kepopuleran calon presiden tertentu dengan nomor urut tertentu, yang membuat sebagian masyarakat pemilih menjadi fanatis dan menjatuhkan pilihan hanya berdasarkan nomor urut tertentu, hal ini tentunya hal yang menggelikan serta menunjukkan betapa pendidikan berpolitik di negeri ini berhenti di tempat.
Pilpres 2009
Saat pemilu diadakan pada 2004 lalu, sebagian besar pemilih bangsa ini mungkin sepakat kalau SBY mejadi the best among the worst dari stok pemimpin yang ada pada waktu itu. Sosok capres yang satu telah menyihir para pemilih untuk memilih SBY dan menjadikannya pemenang pemilu 2004.
Saat ini, hal tersebut telah meninggalkan suatu fanatisme tersendiri di kalangan masyarakat kelas bawah, terutama kaum ibu-ibu. Pasangan capres-cawapres incumbent yang diusung Partai Demokrat ini sadar betul bahwa mereka tidak bisa berharap banyak dari pemilih di kalangan menengah atas yang pastinya akan mempertanyakan kinerja, platform Sang Presiden ini.
Berangkat dari kesadaran itu, tim sukses SBY mendasarkan strategi kampanyenya untuk menyasar dan mempertahankan konstituen fanatik ini, yaitu kalangan kelas bawah dan ibu-ibu yang memang sejak pemilu 2004 memilih SBY. Lihat saja iklan kampanye pasangan ini, tidak ada isu sentral mengenai bangsa ini yang diangkat. Datar saja.
Kebanyakan tema iklan pasangan ini hanya penokohan terhadap karakter SBY, bukan apa yang akan dilakukan mereka jika mereka terpilih. Bukan pula apa-apa yang telah dilakukan SBY lima tahun masa kepemimpinannya yang membanggakan, sehingga itu bisa diklaim sebagai kerja besarnya.
Untuk pemilih kalangan menengah atas, atau pemilih yang melek informasi, dengan kata lain adalah pemilih yang berpendidikan, nama SBY-Boediono mungkin tidak akan dilirik, terlebih dengan “kasus” Neolib Sang Cawapres Boediono, namun bagi masyarakat kelas bawah—persentasenya cukup besar—tidaklah penting program-program capres, tapi lebih penting adalah siapa presidennya, dan seperti apa rupanya. Mereka memilih bukan karena apa yang akan dilakukan pasangan presiden SBY-Boediono ke depan, tetapi karena fanatik terhadap SBY.
Focussing strategi pada konstituen fanatik yang dilakukan ini adalah pertaruhan besar pasangan ini. Alih-alih menarik perhatian pemilih kelas menengah atas, lebih baik menggarap yang sudah di depan mata.
SBY dan nomor 31-nya telah terbukti sukses mendulang suara terbanyak di pemilu legislatif lalu, tambahan dengan anggota-anggota DPD bernomor 31 yang mendapatkan berkah tersembunyi. Ini menunjukkan bahwa fanatisme terhadap SBY di kalangan bawah teramat kuat.
Waktu pemilihan legislatif lalu yang bertepatan dengan libur panjang sedikit-banyak berpengaruh dengan hasil pemilihan, karena kalangan menengah atas memilih menghabiskan waktu dengan keluar kota (liburan) dan tidak menggunakan hak pilih mereka.
Pemilih kalangan menengah atas jumlahnya memang cukup besar, sekitar 40% dari keseluruhan pemilih dan pada pilpres mendatang, para pemilih dari kalangan ini dipastikan akan menggunakan hak pilih mereka, namun suara ini terpecah dan tidak solid, antara memilih JK dan Mega. Sebagian lagi akan memilih SBY, apalagi kalau tim sukses SBY bisa memainkan isu penting saat menjelang pemilihan.
Di sisi lain, suara konstituen fanatik yang memilih SBY tetap. Kecuali ada isu besar di luar skenario, siapa pun capres-nya, presiden-nya tetap SBY.

0 comments:
Post a Comment